Jumat, 28 Juni 2013

T-REC Semarang-Komunitas-Reptil-Semarang-Patofisiologi-tentang-bisa-ular



T-REC Semarang-Komunitas-Reptil-Semarang-Patofisiologi-tentang-bisa-ular


Patofisiologi

Racun/bisa diproduksi dan disimpan pada sepasang kelenjar di bawah mata. Racun ini disimpan di bawah gigi taring pada rahang atas. Rahang dapat bertambah sampai 20 mm pada ular berbisa yang besar. Dosis racun pergigitan bergantung pada waktu yang yang terlewati setelah gigitan yang terakhir, derajat ancaman dan ukuran mangsa. Respon lubang hidung untuk pancaran panas dari mangsa memungkinkan ular untuk mengubah ubah jumlah racun yang dikeluarkan.
Racun kebanyakan berupa air. Protein enzim pada racun mempunyai sifat merusak. Protease, colagenase dan hidrolase ester arginin telah teridentifikasi pada racun ular berbisa. Neurotoksin terdapat pada sebagian besar racun ular berbisa. Diketahui beberapa enzim diantaranya adalah (1) hialuronidase, bagian dari racun diamana merusak jaringan subcutan dengan menghancurkan mukopolisakarida; (2) fosfolipase A2 memainkan peran penting pada hemolisis sekunder untuk efek eritrolisis pada membran sel darah merah dan menyebabkan nekrosis otot; dan (3)enzim trobogenik menyebabkan pembentukan clot fibrin, yang akan mengaktivasi plasmin dan menghasilkan koagulopati yang merupakan konsekuensi hemoragik (Warrell,2005). 

 sumber :
https://sites.google.com/site/djhapipi/seputar-kesehatan


Warrell, D.A., 1999. Guidelines for the Clinical Management of Snake Bite in the South-East Asia Region. World Health Organization. Regional Centre for Tropical Medicine, Faculty of Tropical Medicine, Mahidol University, Thailand.

Warrell,D.A., 2005. Treatment of bites by adders and exotic venomous snakes. BMJ 2005; 331:1244-1247 (26 November), doi:10.1136/bmj.331.7527.1244. www.bmj.com.

T-REC Semarang-Komunitas-Reptil-Semarang-Jenis-ular-berbisa-berdasarkan-dampak-yang-ditimbulkannya-yang-banyak-dijumpai-di-Indonesia



T-REC Semarang-Komunitas-Reptil-Semarang-Jenis-ular-berbisa-berdasarkan-dampak-yang-ditimbulkannya-yang-banyak-dijumpai-di-Indonesia

Jenis ular berbisa berdasarkan dampak yang ditimbulkannya yang banyak dijumpai di Indonesia adalah jenis ular :
  • Hematotoksik, seperti Trimeresurus albolais (ular hijau), Ankistrodon rhodostoma (ular tanah), aktivitas hemoragik pada bisa ular Viperidae menyebabkan perdarahan spontan dan kerusakan endotel (racun prokoagulan memicu kaskade pembekuan)
  • Neurotoksik, Bungarusfasciatus (ular welang), Naya Sputatrix (ular sendok), ular kobra, ular laut.
Neurotoksin pascasinaps seperti α-bungarotoxin dan cobrotoxin terikat pada reseptor asetilkolin pada motor end-plate sedangkan neurotoxin prasinaps seperti β-bungarotoxin, crotoxin, taipoxin dan notexin merupakan fosfolipase-A2 yang mencegah pelepasan asetilkolin pada neuromuscular junction.
Beberapa spesies Viperidae, hydrophiidae memproduksi rabdomiolisin sistemik sementara spesies yang lain menimbulkan mionekrosis pada tempat gigitan.


sumber

https://sites.google.com/site/djhapipi/seputar-kesehatan

T-REC Semarang-Komunitas-Reptil-Semarang-Perkiraan-jumlah-species-ular-di-dunia-dan-ular-yang-berbisa



T-REC Semarang-Komunitas-Reptil-Semarang-Perkiraan-jumlah-species-ular-di-dunia-dan-ular-yang-berbisa

Di seluruh dunia dikenal lebih dari 2000 spesies ular, namun jenis yang berbisa hanya sekitar 250 spesies. Berdasarkan morfologi gigi taringnya, ular dapat diklasifikasikan ke dalam 4 familli utama yaitu:

Famili Elapidae misalnya ular weling, ular welang, ular sendok, ular anang dan ular cabai 
Familli Crotalidae/ Viperidae, misalnya ular tanah, ular hijau dan ular bandotan puspo 
Familli Hydrophidae, misalnya ular laut 
Familli Colubridae, misalnya ular pohon 

sumber
https://sites.google.com/site/djhapipi/seputar-kesehatan

T-REC Semarang-Komunitas-Reptil-Semarang-Tentang-ular-berbisa-de Jong, 1998



T-REC Semarang-Komunitas-Reptil-Semarang-Tentang-ular-berbisa-de Jong, 1998

Gigitan ular berbahaya jika ularnya tergolong jenis berbisa. Sebenarnya dari kira – kira ratusan jenis ular yang diketahui hanya sedikit sekali yang berbisa, dan dari golongan ini hanya beberapa yang berbahaya bagi manusia. (de Jong, 1998)

sumber 

 https://sites.google.com/site/djhapipi/seputar-kesehatan


De Jong W., 1998. Buku Ajar Ilmu Bedah. EGC: Jakarta

T-REC Semarang-Komunitas-Reptil-Semarang-Pengelompokan-bisa-ular-berdasarkan-sifat-dan-dampak-yang-ditimbulkannya



T-REC Semarang-Komunitas-Reptil-Semarang-Pengelompokan-bisa-ular-berdasarkan-sifat-dan-dampak-yang-ditimbulkannya

Bisa ular dapat pula dikelompokkan berdasarkan sifat dan dampak yang ditimbul kannya seperti neurotoksik, hemoragik, trombogenik, hemolitik, sitotoksik, antifibrin, antikoagulan, kardiotoksik dan gangguan vaskular (merusak tunika intima). Selain itu ular juga merangsang jaringan untuk menghasikan zat – zat peradangan lain seperti kinin, histamin dan substansi cepat lambat (Sudoyo, 2006).

sumber

 https://sites.google.com/site/djhapipi/seputar-kesehatan


Sudoyo, A.W., 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

T-REC Semarang-Komunitas-Reptil-Semarang-Komponen-pada-bisa-ular-2


T-REC Semarang-Komunitas-Reptil-Semarang-Komponen-pada-bisa-ular-2

Bisa ular terdiri dari beberapa polipeptida yaitu fosfolipase A, hialuronidase, ATP-ase, 5 nukleotidase, kolin esterase, protease, fosfomonoesterase, RNA-ase, DNA-ase. Enzim ini menyebabkan destruksi jaringan lokal, bersifat toksik terhadap saraf, menyebabkan hemolisis atau pelepasan histamin sehingga timbul reaksi anafilaksis. Hialuronidase merusak bahan dasar sel sehingga memudahkan penyebaran racun. (de Jong, 1998)

sumber 

 https://sites.google.com/site/djhapipi/seputar-kesehatan


De Jong W., 1998. Buku Ajar Ilmu Bedah. EGC: Jakarta

T-REC Semarang-Komunitas-Reptil-Semarang-Komponen-pada-bisa-ular



T-REC Semarang-Komunitas-Reptil-Semarang-Komponen-pada-bisa-ular


Bisa ular (venom) terdiri dari 20 atau lebih komponen sehingga pengaruhnya tidak dapat diinterpretasikan sebagai akibat dari satu jenis toksin saja. Venom yang sebagian besar (90%) adalah protein, terdiri dari berbagai macam enzim, polipeptida non-enzimatik dan protein non-toksik. Berbagai logam seperti zink berhubungan dengan beberapa enzim seperti ecarin (suatu enzim prokoagulan dari E.carinatus venom yang mengaktivasi protombin). Karbohidrat dalam bentuk glikoprotein seperti serine protease ancord merupakan prokoagulan dari C.rhodostoma venom (menekan fibrinopeptida-A dari fibrinogen dan dipakai untuk mengobati kelainan trombosis). Amin biogenik seperti histamin dan 5-hidroksitriptamin, yang ditemukan dalam jumlah dan variasi yang besar pada Viperidae, mungkin bertanggungjawab terhadap timbulnya rasa nyeri pada gigitan ular. Sebagian besar bisa ular mengandung fosfolipase A yang bertanggung jawab pada aktivitas neurotoksik presinaptik, rabdomiolisis dan kerusakan endotel vaskular. Enzim venom lain seperti fosfoesterase, hialuronidase, ATP-ase, 5-nuklotidase, kolinesterase, protease, RNA-ase, dan DNA-ase perannya belum jelas. (Sudoyo, 2006)

sumber :

 https://sites.google.com/site/djhapipi/seputar-kesehatan


Sudoyo, A.W., 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.