Tampilkan postingan dengan label elapidae. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label elapidae. Tampilkan semua postingan

Minggu, 21 Juli 2013

T-REC semarang-komunitas-reptil-semarang-gejala-klinis-gigitan-ular-berbisa-jenis-elapidae





T-REC semarang-komunitas-reptil-semarang-gejala-klinis-gigitan-ular-berbisa-jenis-elapidae


Gigitan Elapidae
misal:
ular kobra,
ular weling,
 ular welang,
ular sendok,
ular anang,
ular cabai,
coral snakes,
 mambas,
 kraits

-          Semburan kobra pada mata dapat menimbulkan rasa sakit yang berdenyut, kaku pada kelopak mata, bengkak di sekitar mulut.
-          Gambaran sakit yang berat, melepuh, dan kulit yang rusak.
-          Setelah digigit ular
o   15 menit: muncul gejala sistemik.
o   10 jam:
§  paralisis urat-urat di wajah, bibir, lidah, tenggorokan, sehingga sukar bicara, susah menelan,
§   otot lemas,
§   kelopak mata menurun,
§  sakit kepala,
§  kulit dingin,
§   muntah,
§  pandangan kabur,
§  mati rasa di sekitar mulut.
§   Kematian dapat terjadi dalam 24 jam.

sumber

Rabu, 17 Juli 2013

T-REC Semarang-komunitas-reptil-semarang-tanda-dan-gejala-umum-setelah-di-gigit-ular-berbisa-family-elapidae-seperti-ular-welang-weling-kobra-sendok-cabai-cabe




T-REC Semarang-komunitas-reptil-semarang-tanda-dan-gejala-umum-setelah-di-gigit-ular-berbisa-family-elapidae-seperti-ular-welang-weling-kobra-sendok-cabai-cabe


 Tanda dan Gejala :

  1. Sakit ringan-berat
  2. Kerusakan kulit bekas gigitan
  3. Melepuh
  4. Paralisis urat wajah, bibir, lidah
  5. Susah menelan

sumber :  http://gadarku.blogspot.com/2013/04/penanggulangan-gigitan-ular.html


paralisis atau kelumpuhan
hilangnya fungsi otot untuk satu atau banyak otot. Kelumpuhan dapat menyebabkan hilangnya perasaan atau hilangnya mobilitas di wilayah yang terpengaruh.

Kelumpuhan sering disebabkan akibat kerusakan pada otak.
sumber :  http://id.wikipedia.org/wiki/Kelumpuhan

Rabu, 03 Juli 2013

T-REC Semarang-komunitas-reptil-semarang-Serangan-neurologik-pada-gigitan-ular-ber-bisa-jenis-elapidae-seperti-ular-weling-welang-sendok-cobra-cabai-dan-russell’s-viper-bandotan-puspo



T-REC Semarang-komunitas-reptil-semarang-Serangan-neurologik-pada-gigitan-ular-ber-bisa-jenis-elapidae-seperti-ular-weling-welang-sendok-cobra-cabai-dan-russell’s-viper-bandotan-puspo


Neurologik (Elapidae, Russell’s viper)
Drowsiness, paraesthesiae, abnormalitas dari penciuman dan perabaan, “heavy” eyelids, ptosis, ophthalmoplegia external, paralysis dari otot wajah dan otot lain yang di inervasi oleh nervus kranialis, aphonia, difficulty in swallowing secretions, respiratory and generalised flaccid paralysis

sumber : https://sites.google.com/site/djhapipi/seputar-kesehatan



Drowsiness.............. kantuk


Paresthesiais a sensation of tickling, tingling, burning, pricking, or numbness of a person's skin with no apparent long-term physical effect. It is more generally known as the feeling of "pins and needles" or of a limb "falling asleep". The manifestation of paresthesia may be transient or chronic.


Paresthesiais adalah rasa menggelitik, kesemutan, terbakar, menusuk, atau kulit mati rasa  seseorang tanpa efek fisik jangka panjang . Hal ini lebih umum dikenal sebagai perasaan "kesemutan" atau anggota tubuh "tertidur". Manifestasi paresthesia mungkin bersifat sementara atau kronis.

sumber :  http://en.wikipedia.org/wiki/Paresthesia


  “heavy” eyelids............Kelopak mata terasa  "berat"


 Ptosis adalah istilah medis untuk suatu keadaan dimana kelopak mata atas (palpebra superior) turun di bawah posisi normal saat membuka mata yang dapat terjadi unilateral atau bilateral.
Kelopak mata yang turun akan menutupi sebagian pupil sehingga penderita mengkompensasi keadaan tersebut dengan cara menaikkan alis matanya atau meng-hiperekstensikan kepalanya. 
sumber :   http://skydrugz.blogspot.com/2012/01/refarat-ptosis.html


Chronic progressive external ophthalmoplegia (CPEO), also known as progressive external ophthalmoplegia (PEO), is a type of eye disorder characterized by slowly progressive inability to move the eyes and eyebrows.
Chronic progressive external ophthalmoplegia(CPEO), juga dikenal sebagai progressive external ophthalmoplegia (PEO), adalah jenis gangguan mata yang ditandai dengan ketidakmampuan progresif  yang lambat untuk memindahkan mata dan alis.
sumber :  http://en.wikipedia.org/wiki/Chronic_progressive_external_ophthalmoplegia



Paralysis is loss of muscle function for one or more muscles. Paralysis can be accompanied by a loss of feeling (sensory loss) in the affected area if there is sensory damage as well as motor.
 Kelumpuhan adalah hilangnya fungsi otot untuk satu atau lebih otot. Kelumpuhan dapat disertai dengan hilangnya perasaan (kehilangan sensori) di daerah yang terkena jika ada kerusakan sensorik serta motorik.
sumber :  https://en.wikipedia.org/wiki/Paralysis



Aphonia means "no sound." In other words, a person with this disorder has lost his/her voice.
 Aphonia berarti "tidak ada suara." Dengan kata lain, orang dengan gangguan ini telah kehilangan / nya suaranya.
sumber :  http://en.wikipedia.org/wiki/Aphonia



difficulty in swallowing secretions.........kesulitan dalam menelan sekresi



Flaccid paralysisis an clinical manifestation characterized by weakness or paralysis and reduced muscle tone without other obvious cause (e.g., trauma).
Flaccid paralysisis sebuah manifestasi klinis yang ditandai dengan kelemahan atau kelumpuhan dan  otot berkurang tanpa sebab yang jelas lainnya (misalnya, trauma).
sumber :  http://en.wikipedia.org/wiki/Flaccid_paralysis


Jumat, 28 Juni 2013

T-REC Semarang-Komunitas-Reptil-Semarang-Gambaran-klinis-gigitan-ular-jenis-elapidae



T-REC Semarang-Komunitas-Reptil-Semarang-Gambaran-klinis-gigitan-ular-jenis-elapidae

 Famili Elapidae misalnya ular weling, ular welang, ular sendok, ular anang dan ular cabai

Gigitan Elapidae
  • Efek lokal (kraits, mambas, coral snake dan beberapa kobra) timbul berupa sakit ringan, sedikit atau tanpa pembengkakkan atau kerusakan kulit dekat gigitan. Gigitan ular dari Afrika dan beberapa kobra Asia memberikan gambaran sakit yang berat, melepuh dan kulit yang rusak dekat gigitan melebar.
  • Semburan kobra pada mata dapat menimbulkan rasa sakit yang berdenyut, kaku pada kelopak mata, bengkak di sekitar mulut dan kerusakan pada lapisan luar mata.
  • Gejala sistemik muncul 15 menit setelah digigit ular atau 10 jam kemudian dalam bentuk paralisis dari urat – urat di wajah, bibir, lidah dan tenggorokan sehingga menyebabkan sukar bicara, kelopak mata menurun, susah menelan, otot lemas, sakit kepala, kulit dingin, muntah, pandangan kabur dn mati rasa di sekitar mulut. Selanjutnya dapat terjadi paralis otot pernapasan sehingga lambat dan sukar bernapas, tekanan darah menurun, denyut nadi lambat dan tidak sadarkan diri. Nyeri abdomen seringkali terjadi dan berlangsung hebat. Pada keracunan berat dalam waktu satu jam dapat timbul gejala – gejala neurotoksik. Kematian dapat terjadi dalam 24 jam.

suimber

https://sites.google.com/site/djhapipi/seputar-kesehatan